Langsung ke konten utama

yang salah tentang pemerkosaan



Kata 'perkosa' berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam jaringan:

per·ko·sa, me·mer·ko·sa v 1 menundukkan dng kekerasan; memaksa dng kekerasan; menggagahi; merogol: ~ negeri orang; laki-laki bejat itu telah ~ gadis di bawah umur; 2 melanggar (menyerang dsb) dng kekerasan: tindakan itu dianggapnya ~ hukum yg berlaku; negara itu dicap sbg negara yg ~ hak asasi manusia; pe·mer·ko·sa n orang yg memerkosa;
pe·mer·ko·sa·an n 1 proses, perbuatan, cara memerkosa; 2 ki pelanggaran dng kekerasan


Saya bukan pakar hukum. Saya juga hanya sok tahu soal bahasa. Namun, menurut saya, makna perkosaan yang dimuat dalam kamus tersebut kurang tepat. Karena dengan definisi tersebut, banyak pemerkosa yang akan lolos dari tindakannya dengan alasan: si korban menikmati; pelaku tidak melakukan kekerasan; tidak ada bekas kekerasan yang tampak pada tubuh korban; si koban bisa mencapai orgasme; si korban mengalami ejakulasi.

Tidak semua korban perkosaan perempuan bukan, bisa juga laki-laki. Meskipun jumlahnya memang tidak sebanyak perempuan dan biasanya dalam kasus pedofil. Pemerkosa juga bukan selalu manusia "bejat" yang tidak dikenal si korban. Dia bisa ayah, suami, pacar, om, tante. Siapa saja.

Kalau bicara tentang perkosaan, kita semua merasa berhak duduk di meja hakim dan memberikan vonis kalau korban tidak mungkin menikmati; korban tidak mungkin suka dengan pelaku; atau korban tersiksa. Yang terakhir itu benar. Korban tersiksa, bisa secara fisik saja, bisa secara batin saja, bisa juga tersiksa fisik dan batin. Hati-hati. Hal-hal semacam inilah yang dipakai oleh pemerkosa untuk melolosakan diri dari jeratan hukum dan pembenaran diri.

Bagaimana korban bisa menikmati? Bagaimana korban bisa suka atau bahkan cinta dengan pelaku? Bisa saja kalau pelakunya suami sendiri? Pacar sendiri? Pernah dengar kan tentang date-rape (masih belum bisa mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia). Bila seseorang, (bisa laki-laki atau perempuan) sebenarnya tidak menginginkan seks (atau bentuk hubungan intim lain tanpa penetrasi), lalu pasangannya memaksa dengan rayuan, dengan hasutan, dengan memanipulasi suasana agar memungkinkan. Lalu akhirnya si yang tidak mau jadi mau. Menurut saya, itu juga perkosaan. Karena, meskipun saat melakukannya mau, tapi sebelumnya kan tidak dan sesudahnya menyesal (seumur hidup). 

Atau misalnya dalam kasus pedofil dengan korban yang masih belum tahu apa itu seks, bagaimana penetrasi, yang mana organ intim. Pernah tahu bagaimana pedofil beraksi? Memang ada yang menggunakan kekerasan, tapi banyak juga yang merayu, membujuk, dan bisa sampai membuat si anak jadi kecanduan dan "mau" lagi diperkosa. Apakah kalau si anak "mau" lagi, peristiwanya berarti bukan lagi perkosaan dan "berkurang" menjadi seks di bawah umur? Apakah si anak yang tidak tahu apa-apa itu bisa disalahkan? Apakah aparat hukum yang melihat kasus itu akan mempertimbangkan pembelaan pelaku yang mengatakan, "Anak itu yang mendatangi saya dan minta dibegitukan." Bagaimana kalau seperti ini?

Kasus perkosaan selalu rumit. Namun dengan mendengarkan semua pihak, menjernihkan pikiran dari steriotip (perempuan seksi itu penggoda, pemuka agama itu selalu benar), dan melihat baik-baik hubungan relasi antara korban dan pelaku, biasanya jelas sekali terlihat apakah yang terjadi perkosaan atau bukan.

Dengan pemahaman saya mengenai 'perkosa' yang demikian, maka sebenarnya saya tidak setuju dengan kutipan yang dipilih Asosiasi LBH Apik dalam petisi berikut.

Calon Hakim Agung yang juga Ketua Pengadilan Tinggi Banjarmasin M Daming Sunusi memberikan pernyataan bahwa "yang diperkosa dengan yang memperkosa ini sama-sama menikmati”. Pernyataan Daming tersebut tersebut disampaikan saat fit and proper test calon hakim agung oleh Komisi III DPR RI, Senin (14/1/2013).

Karena, kalau dari kutipan tersebut tidak ada yang salah dengan pernyataan Daming. Tidak tampak kebodohan Daming yang sesungguhnya. Kebodohan dia adalah menjadikan perkosaan sebagai lelucon. Karena kebodohan dia itulah, maka meskipun tidak setuju dengan pilihan kutipannya, saya tetap menandatangani petisi tersebut. 

Kesalahan pernyataan Daming, menurut saya, saat dia mengatakan kalau sama-sama menikmati harus pikir-pikir tentang hukuman mati. Dia menyederhanakan masalah. Seperti yang selama ini kita lakukan. Masa menentukan vonis hanya dari pernyataan "sama-sama menikmati" sih!? Bodohnya lagi, hari ini semua berita mengutip "sama-sama menikmati" itu.

Sekali lagi, dalam beberapa kasus, peristiwa "sama-sama menikmati" itu bisa terjadi dalam perkosaan karena tubuh kita memang dirancang untuk menikmati seks. Namun, itu seharusnya tidak dijadikan sebagai unsur yang menentukan hukuman pemerkosa. Jangan terlalu terpaku pada ditail saat terjadinya kontak tubuh pemerkosa dan korban. Seks itu terlalu besar daya tariknya sehingga kita bisa dengan mudah melupakan hal lain yang lebih penting.
 
Coba berikan lebih banyak perhatian pada bagaimana sampai terjadi perkosaan itu. Dan, sekali lagi, setelah berhasil menjauhkan pikiran dan keinginan untuk mensteriotipkan pelaku atau korban. Lihat kondisi hubungan relasi mereka. Lalu alangkah baiknya melihat efek yang terjadi setelah perkosaan pada korban dan komunitas sekitarnya. Saya sebagai orang awam akan lebih menghormati aparat hukum yang mempertimbangkan hal terakhir itu saat ingin menjatuhkan vonis pada pemerkosa.

Mari kita belajar lagi untuk lebih peka, lebih kritis, dan lebih adil saat mendengar kata 'perkosa'. Sehingga pemerkosa tidak lagi memiliki bahan untuk dimasukan dalam berkas pembelaan diri mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memenuhi Kebutuhan Emosi

I love you. You... you complete me,” kata Jerry Maguire. 
Lalu Dorothy membalas dengan berkata:
Shut up, just shut up. You had me at ‘hello’.” 


Ungkapan “you complete me” sering digunakan dalam untuk menggambarkan bagaimana pasangan kita membuat diri merasa lengkap, utuh. Pakar psikologi mengatakan, pasangan tidak bisa melengkapi kita, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan emosi. Mereka hanya bisa memenuhi keinginan dan hasrat.

Menuntut orang-orang terdekat untuk memenuhi kebutuhan emosi kita bukanlah tindakan tepat dan tidak rasional. Kita harus bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan emosi kita sendiri. "Jika Anda mencari pasangan yang dapat membuat Anda berarti, bahagia, menyelamatkan dari kebosanan dan kesedihan hidup; jika Anda mencari orang yang dapat melengkapi, itu bukan hal yang mudah dilakukan. Karena sebenarnya yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan itu Anda sendiri," kata Dennis Sugrue, psikologis dari medicinenet.com.

Menurut Psikolog Toge Aprillianto, M. Ps…

Joko Pinurbo dan Makna Rumah dalam Personifikasi Kulkas, Ranjang dan Celana

Judul : Pacar Senja: Seratus Puisi Pilihan Pengarang : Joko Pinurbo Penerbit : Grasindo Cetakan : Pertama, 2005 Penyunting : Pamusuk Eneste Kata Penutup : Ayu Utami

Bila kita membaca Pacar Senja karya Joko Pinurbo, seperti membaca narasi panjang tentang rumah dari kacamata penyair yang biasa disapa Jokpin ini. Sajak yang terkumpul dalam antologi ini memiliki rentang penciptaan yang panjang dari tahun 1980 hingga 2004. Paling banyak puisi bertahun 1996, 2001, dan 2003, masing-masing 14 puisi. Selain itu ada 13 puisi bertahun 1999, 10 puisi di 2002, dan sembilan puisi di tahun 2000. Tahun 1997 ada tiga puisi, tahun 1990 dan 1995 ada dua puisi. Jokpin memasukan masing-masing satu puisi yang bertahun 1980, 1989, 1991, 1994, dan satu puisi bertahun 2002/2003.

Total ada 100 puisi dalam buku ini. Kecuali puisi "Layang-layang" (1980) dan "Pohon Bungur" (1990) yang belum pernah dipublikasikan, 98 karya lain pernah dipublikasikan dalam antologi Celana (1999), Di Bawah Kibar…

Misteri Kematian dan Janji Surga dalam Novel Faisal Oddang

Surga diciptakan karena...
Demikian kalimat menggantung yang tertera di bawah judul novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang. Buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (Jakarta, 2015) ini ditulis untuk menjawab pertanyaan, "Kenapa surga diciptakan?" Pertanyaan penting yang akan memengaruhi kehidupan manusia dan apa saja yang akan diperbuatnya sebelum dijemput kematian. Kematian dan surga adalah dua hal yang menggerakkan alur dan menciptakan konflik novel ini.

Ini kisah kematian. Dimulai dengan kematian seseorang diakhiri dengan kematianmu. Iya, kematianmu. Tidak usah terkejut. Novel ini 200an halaman ini terbagi dalam empat bagian dan 20 bab. Tiap bagian diberi judul dan potongan puisi. Bagian pertama berjudul "Menyiapkan Kematian", bagian kedua "Pada Kematian Itu, Aku Pergi", dilanjutkan dengan "Obituari Luka", dan terakhir "Alam Baka" atau puya.

Narator dalam novel ini adalah leluhur orang Toraja, suku yang terkenal dengan tradisi upac…