Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Marlina: Lakon Perempuan yang Kurang Tergarap

Saat menonton film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak di bioskop, saya merasa sedang berada di gedung teater, melihat lakon yang berkisah tentang keperkasaan perempuan. Gerak kamera statis, latar alam memukau, editing monoton, dan alur yang sangat linier, membuat saya menangkap kesan itu.
Saya menunggu-nunggu film ini untuk bisa ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia. Marlina merupakan film hasil kerjasama dengan Yayasan Cinemas du Monde, Kementrian Komunikasi dan Kebudayaan, dan Kementrian Luar Negeri Perancis serta beberapa negara (Perancis, Malaysia, Singapura, dan Thailand). Sebelum resmi tayang di Indonesia, film dengan  dengan judul internasional Marlina the Murderer in Four Acts ini wara-wiri di sejumlah festival film internasional, seperti Festival Film Cannes, New Zealand International Film Festival, Melbourne Film Festival, dan Toronto International Film Festival.

Membaca berita-berita itu membuat saya memiliki ekspektasi yang tinggi akan film ini. Saat menontonnya say…

Bagaimana Kalau Chairil Anwar itu Perempuan? Ulasan Lakon Perempuan-perempuan Chairil

Mari berandai-andai! Bagaimana kalau Chairil Anwar itu perempuan? Apakah 68 tahun setelah kematiannya akan ada sebuah lakon dengan judul Para Laki-laki Chairil? Apakah memiliki banyak pasangan akan sama “jantan”-nya jika itu dilakukan oleh seorang penyair perempuan?



Dalam lakon empat babak yang disutradarai Agus Noor ini, diceritakan hubungan Chairil dengan empat perempuan yakni Ida, Sri, Mirat dan Hapsah. Empat perempuan yang menggambarkan sosok perempuan pada zaman perang kemerdekaan sekitar tahun 1940.
Ida Nasution yang diperankan oleh Marsha Timothy adalah mahasiswi, penulis yang hebat, pemikir kritis dan bisa menyaingi intelektualisme Chairil ketika mereka berdebat. Sri Ajati yang diperankan oleh Chelsea Islan, juga seorang mahasiswi dan penyiar radio, bergerak di tengah pemuda-pemuda hebat pada zamannya. Ikut main teater, jadi model lukisan, gadis ningrat yang tak membeda-bedakan kawan. Hubungan Chairil dengan dua perempuan ini tidak berbalas. Mereka meninggalkan penyair yang d…

Cara Menghilangkan Noda Gincu di Bajumu

kopi yang masih setengah isi tidak pernah mempermasalahkan noda gincu merah di cangkir kertas putih.
jadi aku diamkan saja dia di sana, memerah hingga masuk tempat sampah.
kalau aku bisa seperti kopi yang hanya diam, noda yang sama akan tetap ada di sana. di kerah kemeja hitam. tidak terlalu kelihatan memang, tapi tetap aku tidak bisa diam. jadi aku cari cara agar dia tidak diam saja di sana, jangan memerah dan mencapku sampah. seandainya menghapus noda gincu semudah yang dikatakan mesin pencari itu. seandainya menghapusmu semudah membuang noda gincu di cangkir kertas putih itu. seandainya...

Film Hujan Bulan Juni: Perayaan Puisi Anak Zaman Now

Apresiasi terhadap karya sastra bisa dilakukan dengan barbagai cara. Membuatnya menjadi film seperti menjadi bentuk apresiasi tertinggi karena bentuk film memiliki jangkauan lebih luas dan menjanjikan keuntungan yang menggiurkan.
Ujung-ujungnya duit? Ya begitulah kalau berbicara tentang industri. Apalagi industri film yang sudah menjadi mesin uang menjanjikan di Indonesia. Industri yang sudah mulai mapan ini mulai menggandeng industri buku yang dari dulu terseok-seok, terutama untuk jenis buku sastra yang biasanya tiap judul hanya tersisa satu-dua di rak toko buku. Kalau dari novel sudah ada beberapa judul yang filmya sukses. Sebut saja Ayat-ayat Cinta (2008) dan Laskar Pelangi (2008)1.

Kalau dalam kasus puisi, genggaman tangan film dan buku makin erat sejak film Ada Apa dengan Cinta (2002 dan 2016)Film pertama berhasil membuat anak muda mengutip puisi dan membaca biografi Chairil Anwar. Film keduanya membuat buku Tidak Ada New York Hari Ini karya Aan Mansyur menjadi buku puisi pert…

Misteri Kematian dan Janji Surga dalam Novel Faisal Oddang

Surga diciptakan karena...
Demikian kalimat menggantung yang tertera di bawah judul novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang. Buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (Jakarta, 2015) ini ditulis untuk menjawab pertanyaan, "Kenapa surga diciptakan?" Pertanyaan penting yang akan memengaruhi kehidupan manusia dan apa saja yang akan diperbuatnya sebelum dijemput kematian. Kematian dan surga adalah dua hal yang menggerakkan alur dan menciptakan konflik novel ini.

Ini kisah kematian. Dimulai dengan kematian seseorang diakhiri dengan kematianmu. Iya, kematianmu. Tidak usah terkejut. Novel ini 200an halaman ini terbagi dalam empat bagian dan 20 bab. Tiap bagian diberi judul dan potongan puisi. Bagian pertama berjudul "Menyiapkan Kematian", bagian kedua "Pada Kematian Itu, Aku Pergi", dilanjutkan dengan "Obituari Luka", dan terakhir "Alam Baka" atau puya.

Narator dalam novel ini adalah leluhur orang Toraja, suku yang terkenal dengan tradisi upac…

Masih Adakah Otoritas Tubuh Manusia?

Perang apa yang sudah berlangsung ribuan tahun dan belum bisa berakhir hingga kini? Hampir semua orang pernah mengalami perang ini. Perang memperebutkan otoritas tubuhnya sendiri.
Bila perang yang Anda alami terasa lebih hebat, kemungkinan besar Anda seorang perempuan. Sebagai perempuan saya mengakui asumsi tersebut. Namun, isu tentang rokok yang beredar belakangan membuat saya berfikir, mungkin laki-laki pun mulai kehilangan otoritas akan tubuh.

Apa hubungan rokok yang terus mengalami kenaikan harga dan otoritas tubuh? Jika Anda perokok pasti merasa kalau kegiatan mengepulkan asap tembakau ini sebenarnya personal. Meskipun ada istilah social smoker bagi mereka yang mengandalkan rokok untuk meningkatkan percaya diri atau melancarkan obrolan saat bersosialisasi.

Bukan karena saya pernah jadi perokok, lantas saya membela mereka yang kebetulan mayoritas laki-laki ini. Ini bukan masalah rokok yang merugikan kesehatan konsumen dan mereka yang terkena asapnya. Ini masalah otoritas tubuh m…

Kritik Atas Sosok Ibu dalam Puisi-puisi Cyntha Hariadi

Judul : Ibu Mendulang Anak Berlari Pengarang : Cyntha Hariadi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : Pertama, April 2016 Penyelia Naskah : Mirna Yulistianti

Barangkali tak ada yang lebih alami dalam kodrat manusia
daripada arus energi di antara dua tubuh biologis serupa:
yang satu meringkuk damai di dalam tubuh lain
yang kemudian akan mengerahkan seluruh tenaga
untuk mendorong keluar yang satunya.
Darinya tumbuh akar kisah-kisah tentang
ketergantungan antar manusia yang paling dalam
dan keterasingan yang paling kelam.

Of Woman Born karya Adrienne Rich (1929-2012)



Kutipan di atas membuka buku kumpulan puisi Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, April 2016. Adrienne Rich perupakan penyair asal Amerika. Ia juga seorang feminis. Meninggal pada usia 83 tahun, Adrienne memiliki tiga orang anak laki-laki.

Puisi-puisi yang ditulis oleh Cyntha memiliki nafas yang sama seperti kutipan pembuka bukunya. Ia menggambarkan relasi ibu dan anak. Dia…

Tiga Senja

: SGA

ada tiga cangkir kopi tersaji di meja.
kata barista, isinya tiga jenis senja.

senja cangkir pertama milik sukab.
senja lembut dengan angin dan debur ombak.
senja yang dikeratnya untuk pacar.

senja cangkir kedua milik alina.
senja abadi yang dikutukinya.
senja pembawa kehancuran dunia.

senja terakhir entah milik siapa.
senja di kaca spion bercahaya keemasan.
senja yang meninggalkan perasaan rawan.

"tidak ada yang pilih cangkir kedua,"
bisik barista.

"apa itu senja abadi? bukankah senja selalu
menjanjikan perpisahan sendu?"
mereka berseru. 

2016

Rehat Kopi

: Nukila Amal


bila cinta secangkir kopi,
manis gula akan menemani pahitnya.
hitam pekat pun jadi hangat
bersama krim susu gurih di atasnya.
bila cinta sebatang rokok,
kretek bisa membuat rasa manis
mengenang di bibir,
lama setelah asap hilang tertiup angin.

sayang cinta bukan seminar sehari,
tidak boleh ada asap rokok kretek
yang dimusuhi ruangan pengap
berpendingin udara.
apalagi rehat kopi.

2016

Demokrasi Lain Kali

negeri yang katanya demokrasi hanya ramai lima tahun sekali. kadang lebih kalau para peserta "pesta demokrasi" butuh pertandingan persahabatan sebelum memunguti suara kami.

negeri yang katanya demokrasi sibuk sekali. banyak kantong yang harus diisi, sampai lupa kalau itu namanya korupsi.

negeri yang katanya demokrasi penakut sekali. takut dibui, kena jebakan sendiri, lalu lari ke luar negeri.

negeri yang katanya demokrasi merdekanya lain kali.


Apa Rasanya Detoks Digital?

Pada suatu pagi, terjadi kebakaran kecil di rumah saya. Wajan besar terbakar di atas kompor. Api menyala bukan hanya di bawah, tapi juga di atas wajan, membakar habis minyak goreng yang ada di dalamnya.

Saya yang menyalakan kompor, malah asik membuka notifikasi dan menelusuri lini masa beberapa medsos (media sosial). Suara notifikasi membuat saya lupa niatan awal menggoreng ikan dan wajan yang dibiarkan memanas itu pun terbakar.

Saat kejadian itu, saya sudah menyimpan niat untuk mengurangi konsumsi medsos. Detoks digital istilah kerennya. Asap yang memenuhi rumah dan tembok dapur yang menghitam pagi itu makin menguatkan niatan saya: sebulan tanpa Facebook, Instagram, dan Path, tiga jenis media sosial yang paling sering diakses.

Beberapa minggu kemudian, setelah detoks digital berjalan, kejadian yang sama berulang. Api kembali menyala di dapur rumah saya. Kali ini yang terbakar bukan wajan cekung yang besar, tapi wajan datar yang kecil. Duh, berkurang terus deh jumlah perkakas dapurku…

Ibu Sudah Senja

"ibu, mengapa kau takut memangku senja yang merambati putih rambutmu?" "karena nak, senja akan memaksa kita bertukar peran dan aku tahu betapa senangnya engkau ditimang," jawab ibu.lalu ibu memangku anaknya sambil menatap senja menyelinap di antara mereka.dan malam pun tiba.2013