Postingan

#1Puan1Pekan Chanel Miller

Gambar
Tangkapan Layar video Chanel Miller dalam TIME 100 Chanel Miller pertama dikenal anonim sebagai Emily Doe dalam kasus pelecehan seksual di Universitas Stanford, AS oleh Brock Tunner. Victim impact statement yang dia tulis dan bacakan di pengadilan dapat 11 juta pembaca dalam 4 hari di BuzzFeed. “ Even if the sentence is light, hopefully this will wake people up. I want the judge to know that he ignited a tiny fire. If anything, this is a reason for all of us to speak even louder ," demikian pernyataan Miller ketika memberikan izin eksklusif pemuatan surat tersebut kepada BuzzFeed. Sebelum membaca surat itu pada 3 Juni 2016, saya sudah mengikuti kasus pelecehan ini dan kecewa saat Tunner hanya diputus 6 bulan penjara. Dan, benar saja, surat itu bisa memantik api, tapi bukan nyala yang kecil. Surat Miller menimbulkan gelombang protes besar di tengah gerakan Meetoo yang mulai bermunculan. Pada 2018, hakim yang memutus kasus tersebut akhirnya diberentikan. Usaha Miller agar suaranya t

#1Puan1Pekan Tig Notaro

Gambar
Poster  Tig Notaro: Happy To Be Here  dari situs Netflix   " Good evening. Hello! I have cancer. How are you? " kalimat ini diucapkan Mathilde Notaro dalam pentas bulanan komika Tig Has Friends di Largo , Los Angeles pada 3 Agustus 2012. Kalimat pembuka yang tidak biasa untuk materi yang juga tidak umum diangkat dalam konten komedi. Di tangan komika dengan nama panggung Tig Notaro ini, penyakit kanker yang diagnosisnya datang setelah dia sembuh dari C-DIFF l (penyakit pencernaan akibat bakteri yang memakan sel-sel tubuh) dan ibunya meninggal dunia, jadi lucu-lucu miris. Di pantas yang hanya tersedia rekaman suaranya ini, Tig mengajak kita menertawakan kematian. Itu semua diceritakan dalam film dokumenter Netflix berjudul Tig (2015). Namun, bukan dari film ini saya tahu Tig. Saya pertama kali menonton lawakannya di Facebook Funny or Die yang menampilkan semacam games talk show Under A Rock . Di sini, Tig menjadi pembawa acara yang menebak nama dan profesi bintang tamu. Acar

#1Puan1Pekan Francesca Fiorentini

Gambar
Promo News Broke dri Twitter @franifio Francesca Fiorentini merupakan kontributor dan komika yang bekerja sebagai pembawa acara serta produser di AJ+ sejak awal channel ini berdiri. Dari Newsbroke, acara yang ditulis dan dipandu Francesca, saya belajar banyak soal politik sambil tertawa. Dia bisa menjelaskan tentang kenapa AS begitu takut akan sosialisme; mengapa pemerintah senang mengatur alat reproduksi perempuan, tentang gun control , Rusia, tax reform , hingga legalisasi pekerja seks. Dari monolog yang dia bawakan, ada sudut pandang baru yang ditawarkan, teori dijelaskan dengan analogi yang mudah dimengerti tanpa perlu muluk-muluk mengutip dan menempel nama-nama besar. Politik tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan dan membuat pusing di tangan Franifio. Politik menjadi sesuatu yang menggelikan dengan pola-pola yang berulang dan dapat dengan mudah kita mengerti arah tujuannya. Tentunya politik tetap menyebalkan dan menyengsarakan banyak orang, tapi Francesca bukan mengajak kita

#1Puan1Pekan Ali Wong

Gambar
Poster Ali Wong: Hard Knock Wife dari situs Netflix Sama seperti banyak orang lain, saya pertama kali tahu tentang Ali Wong lewat promo Netflix Comedy Special: Baby Cobra . Pentas komika tunggal ini tayang di Hari Ibu tahun 2016 di AS. Kepopuleran perempuan kelahiran 19 April 1982 ini memang menanjak berkat penampilannya membawakan lelucon-lelucon gamblang tentang seks dengan penampilan yang tidak biasa: perut hamil besar dan gaun yang makin memperjelas lekuk tubuhnya. Penampilan yang beda itu selain membuat orang penasaran, juga untuk menguatkan pesan yang ingin dia sampaikan: 1) Merombak stereotip ibu hamil 2) Komika yang menikah dan akan punya anak tetap bisa berkarya 3) Standar ganda ibu bekerja nyata adanya Saking populernya penampilan Ali di Baby Cobra , dia mengulang kesuksesannya di kehamilan kedua dengan gaun yang nyaris sama dan materi lelucon yang tetap segar, mengena dalam semua isu, dari feminisme hingga rasialisme. Hard Knock Wife tayang pada 2018 dan menuai kesuksesan

#1Puan1Pekan Franca Sozzani

Gambar
Adegan dari film dokumenter Franca: Chaos and Creation Franca Sozzani (1950-2016) merupakan pemimpin redaksi majalah Vogue Italia yang menjabat bersamaan dengan Anna Wintour di Amerika. Dia menjabat selama 28 tahun sampai akhir hidupnya. Di bawah kepemimpinan Franca, Vogue Italia membuat perubahan besar-besaran. Dimulai dari edisi perdana yang keluar saat dia menjabat. Edisi Juli/Agustus 1988 itu menampilkan satu cover line " Il Nouvo Stile " dengan gambar berfilter sephia hitam putih. Model Robin MacKintosh mengenakan blus putih polos Ferre. Simpel, bersih, fokus pada foto yang kuat, menjadi gaya Franca yang menginspirasi banyak majalah fesyen lain. " Before fashion, I love images ," tulis Vogue dalam obituari, mengutip kata-kata Franca. Banyak fashion spread kontroversial selama kepemimpinan Franca. Salah satunya pada 2010 yang dibuat di pantai di tengah tumpahan minyak kapal tanker  BP. Bahkan dia menerbitkan edisi Horror Movie pada April 2014 yang mengangkat

#1Puan1Pekan Laurel Cho

Gambar
Unggahan Laurel Chor di akun Instagramnya Sebuah unggahan di Twitter membawa saya pada nama Laurel Chor. Kebetulan di unggahan #1Puan1Pekan sebelumnya saya mengangkat jurnalis AS. Jadi, saya langsung tertarik mengenal fotografer asal Hongkong ini untuk melanjutkan pembicaraan tentang perempuan di media.  Laurel adalah jurnalis, fotografer dan konservasionis. Belakangan, dia banyak mengabadikan gerakan sosial pro demokrasi di negaranya. Gerakan tersebut dimulai hampir bersamaan dengan keputusan Laurel menjadi jurnalis lepas. Ini membuat dia bisa mendedikasikan waktunya dengan lebih bebas untuk fokus dalam mendokumentasikan, mengisahkan perjuangan tersebut.  Laurel Chor berbicara biodiversitas di Hongkong dalam TEDx Beberapa karya menarik dari puan ini: 1) Esai foto yang menunjukkan isi tas para protestan yang tertinggal di PolyU; 2) Reportase tentang efektivitas penarikan senjata api otomatis di Selandia Baru setelah insiden penembakan di Masjid Christchurch; 3) Kampanye biodiversitas d

#1Puan1Pekan Joan Didion

Gambar
Berkenalan dengan Joan Didion (85) pertama kali dari dokumenter Netflix: The Center Will Not Hold (2017). Dia penulis novel, esai, dan memoar kawakan AS. Jurnalis penulis Slouching Towards Bethlehem (1968) yang merupakan kumpulan reportase kondisi California era 60an. Gaya penulisan Didion tajam karena bisa menyeimbangankan empati dan obyektivitas.  " Let me tell you, it was gold ," kata Didion ketika ditanya keponakannya Griffin Dunne, sutradara film dokumenter itu, tentang bagaimana perasaannya ketika menjumpai adegan paling penting dalam esainya " Slouching Towards Bethlehem " tentang Summer of Love di San Francisco. Adegan yang dimaksud adalah ketika dalam reportasenya Didion melihat seorang anak perempuan 5 tahun, bibirnya putih, kecanduan LSD. Pernyataan "it was gold" menunjukkan bagaimana kuatnya jiwa jurnalis Didion yang mengesampingkan emosi saat di lapangan tapi menunjukkan banyak empati dalam tulisan dan pilihan sudut pandangnya. Gaya penulisan