Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Film Hujan Bulan Juni: Perayaan Puisi Anak Zaman Now

Apresiasi terhadap karya sastra bisa dilakukan dengan barbagai cara. Membuatnya menjadi film seperti menjadi bentuk apresiasi tertinggi karena bentuk film memiliki jangkauan lebih luas dan menjanjikan keuntungan yang menggiurkan.
Ujung-ujungnya duit? Ya begitulah kalau berbicara tentang industri. Apalagi industri film yang sudah menjadi mesin uang menjanjikan di Indonesia. Industri yang sudah mulai mapan ini mulai menggandeng industri buku yang dari dulu terseok-seok, terutama untuk jenis buku sastra yang biasanya tiap judul hanya tersisa satu-dua di rak toko buku. Kalau dari novel sudah ada beberapa judul yang filmya sukses. Sebut saja Ayat-ayat Cinta (2008) dan Laskar Pelangi (2008)1.

Kalau dalam kasus puisi, genggaman tangan film dan buku makin erat sejak film Ada Apa dengan Cinta (2002 dan 2016)Film pertama berhasil membuat anak muda mengutip puisi dan membaca biografi Chairil Anwar. Film keduanya membuat buku Tidak Ada New York Hari Ini karya Aan Mansyur menjadi buku puisi pert…

Misteri Kematian dan Janji Surga dalam Novel Faisal Oddang

Surga diciptakan karena...
Demikian kalimat menggantung yang tertera di bawah judul novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang. Buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (Jakarta, 2015) ini ditulis untuk menjawab pertanyaan, "Kenapa surga diciptakan?" Pertanyaan penting yang akan memengaruhi kehidupan manusia dan apa saja yang akan diperbuatnya sebelum dijemput kematian. Kematian dan surga adalah dua hal yang menggerakkan alur dan menciptakan konflik novel ini.

Ini kisah kematian. Dimulai dengan kematian seseorang diakhiri dengan kematianmu. Iya, kematianmu. Tidak usah terkejut. Novel ini 200an halaman ini terbagi dalam empat bagian dan 20 bab. Tiap bagian diberi judul dan potongan puisi. Bagian pertama berjudul "Menyiapkan Kematian", bagian kedua "Pada Kematian Itu, Aku Pergi", dilanjutkan dengan "Obituari Luka", dan terakhir "Alam Baka" atau puya.

Narator dalam novel ini adalah leluhur orang Toraja, suku yang terkenal dengan tradisi upac…

Masih Adakah Otoritas Tubuh Manusia?

Perang apa yang sudah berlangsung ribuan tahun dan belum bisa berakhir hingga kini? Hampir semua orang pernah mengalami perang ini. Perang memperebutkan otoritas tubuhnya sendiri.
Bila perang yang Anda alami terasa lebih hebat, kemungkinan besar Anda seorang perempuan. Sebagai perempuan saya mengakui asumsi tersebut. Namun, isu tentang rokok yang beredar belakangan membuat saya berfikir, mungkin laki-laki pun mulai kehilangan otoritas akan tubuh.

Apa hubungan rokok yang terus mengalami kenaikan harga dan otoritas tubuh? Jika Anda perokok pasti merasa kalau kegiatan mengepulkan asap tembakau ini sebenarnya personal. Meskipun ada istilah social smoker bagi mereka yang mengandalkan rokok untuk meningkatkan percaya diri atau melancarkan obrolan saat bersosialisasi.

Bukan karena saya pernah jadi perokok, lantas saya membela mereka yang kebetulan mayoritas laki-laki ini. Ini bukan masalah rokok yang merugikan kesehatan konsumen dan mereka yang terkena asapnya. Ini masalah otoritas tubuh m…