Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Kritik Atas Sosok Ibu dalam Puisi-puisi Cyntha Hariadi

Judul : Ibu Mendulang Anak Berlari Pengarang : Cyntha Hariadi Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : Pertama, April 2016 Penyelia Naskah : Mirna Yulistianti

Barangkali tak ada yang lebih alami dalam kodrat manusia
daripada arus energi di antara dua tubuh biologis serupa:
yang satu meringkuk damai di dalam tubuh lain
yang kemudian akan mengerahkan seluruh tenaga
untuk mendorong keluar yang satunya.
Darinya tumbuh akar kisah-kisah tentang
ketergantungan antar manusia yang paling dalam
dan keterasingan yang paling kelam.

Of Woman Born karya Adrienne Rich (1929-2012)



Kutipan di atas membuka buku kumpulan puisi Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, April 2016. Adrienne Rich perupakan penyair asal Amerika. Ia juga seorang feminis. Meninggal pada usia 83 tahun, Adrienne memiliki tiga orang anak laki-laki.

Puisi-puisi yang ditulis oleh Cyntha memiliki nafas yang sama seperti kutipan pembuka bukunya. Ia menggambarkan relasi ibu dan anak. Dia…

Tiga Senja

: SGA

ada tiga cangkir kopi tersaji di meja.
kata barista, isinya tiga jenis senja.

senja cangkir pertama milik sukab.
senja lembut dengan angin dan debur ombak.
senja yang dikeratnya untuk pacar.

senja cangkir kedua milik alina.
senja abadi yang dikutukinya.
senja pembawa kehancuran dunia.

senja terakhir entah milik siapa.
senja di kaca spion bercahaya keemasan.
senja yang meninggalkan perasaan rawan.

"tidak ada yang pilih cangkir kedua,"
bisik barista.

"apa itu senja abadi? bukankah senja selalu
menjanjikan perpisahan sendu?"
mereka berseru. 

2016

Rehat Kopi

: Nukila Amal


bila cinta secangkir kopi,
manis gula akan menemani pahitnya.
hitam pekat pun jadi hangat
bersama krim susu gurih di atasnya.
bila cinta sebatang rokok,
kretek bisa membuat rasa manis
mengenang di bibir,
lama setelah asap hilang tertiup angin.

sayang cinta bukan seminar sehari,
tidak boleh ada asap rokok kretek
yang dimusuhi ruangan pengap
berpendingin udara.
apalagi rehat kopi.

2016

Demokrasi Lain Kali

negeri yang katanya demokrasi hanya ramai lima tahun sekali. kadang lebih kalau para peserta "pesta demokrasi" butuh pertandingan persahabatan sebelum memunguti suara kami.

negeri yang katanya demokrasi sibuk sekali. banyak kantong yang harus diisi, sampai lupa kalau itu namanya korupsi.

negeri yang katanya demokrasi penakut sekali. takut dibui, kena jebakan sendiri, lalu lari ke luar negeri.

negeri yang katanya demokrasi merdekanya lain kali.


Apa Rasanya Detoks Digital?

Pada suatu pagi, terjadi kebakaran kecil di rumah saya. Wajan besar terbakar di atas kompor. Api menyala bukan hanya di bawah, tapi juga di atas wajan, membakar habis minyak goreng yang ada di dalamnya.

Saya yang menyalakan kompor, malah asik membuka notifikasi dan menelusuri lini masa beberapa medsos (media sosial). Suara notifikasi membuat saya lupa niatan awal menggoreng ikan dan wajan yang dibiarkan memanas itu pun terbakar.

Saat kejadian itu, saya sudah menyimpan niat untuk mengurangi konsumsi medsos. Detoks digital istilah kerennya. Asap yang memenuhi rumah dan tembok dapur yang menghitam pagi itu makin menguatkan niatan saya: sebulan tanpa Facebook, Instagram, dan Path, tiga jenis media sosial yang paling sering diakses.

Beberapa minggu kemudian, setelah detoks digital berjalan, kejadian yang sama berulang. Api kembali menyala di dapur rumah saya. Kali ini yang terbakar bukan wajan cekung yang besar, tapi wajan datar yang kecil. Duh, berkurang terus deh jumlah perkakas dapurku…