Langsung ke konten utama

Apa Rasanya Detoks Digital?



Pada suatu pagi, terjadi kebakaran kecil di rumah saya. Wajan besar terbakar di atas kompor. Api menyala bukan hanya di bawah, tapi juga di atas wajan, membakar habis minyak goreng yang ada di dalamnya.

Saya yang menyalakan kompor, malah asik membuka notifikasi dan menelusuri lini masa beberapa medsos (media sosial). Suara notifikasi membuat saya lupa niatan awal menggoreng ikan dan wajan yang dibiarkan memanas itu pun terbakar.

Saat kejadian itu, saya sudah menyimpan niat untuk mengurangi konsumsi medsos. Detoks digital istilah kerennya. Asap yang memenuhi rumah dan tembok dapur yang menghitam pagi itu makin menguatkan niatan saya: sebulan tanpa Facebook, Instagram, dan Path, tiga jenis media sosial yang paling sering diakses.

Beberapa minggu kemudian, setelah detoks digital berjalan, kejadian yang sama berulang. Api kembali menyala di dapur rumah saya. Kali ini yang terbakar bukan wajan cekung yang besar, tapi wajan datar yang kecil. Duh, berkurang terus deh jumlah perkakas dapurku.

Penyebab kebakaran kecil itu bukan telepon genggam lagi, pastinya. Kali ini penyebabnya anak-anak. Setelah saya menyalakan kompor, anak-anak datang dengan kehebohan masing-masing. Keinginan mereka menunjukkan mainan yang baru dibeli bersama Mbah Kakungnya, membuat saya lupa niatan memasak entah apa.

Jelas, kebakaran kecil di dapur bukanlah motivasi saya melakukan detoks digital. Wong penyebab kebakaran itu murni kepikunan saya sendiri, bukan salah telepon pintar atau pun anak-anak saya. Jadi apa motivasi saya? Satu kata: jenuh.

Ada masanya kita bisa melihat pola-pola berulang yang menjemukan. Informasi yang membanjiri di medsos sama saja jenisnya, kulitnya saja yang berbeda. Ibarat orang, ya die die aje yang nongol, tapi masing-masing mukanya banyak, jadi keliatannya aja rame.



Hidup tanpa media sosial

Bagi orang yang mencari nafkah dengan marketing digital, hidup tanpa medsos bukanlah pilihan. Lagi pula, saya tipe orang yang senang jalan tengah, mencari titik temu dari dua kutub ekstrim yang bertentangan. Detoks digital menurut saya adalah titik tengah itu. Itulah sebabnya saya menghapus aplikasi Facebook, Path, dan Instragram di telepon pintar saya selama satu bulan.

Harapan saya, setelah melakukan ini kejenuhan akan hilang dan saya bisa lebih bijak mengunggah status atau memberikan komentar. Kata 'bijak' ini agak sedikit ekstrim sih sebenarnya kalau untuk ukuran saya. Bagi teman-teman di medsos, pasti tahu betapa nyinyir dan reaktif-nya saya. Supaya tidak "menciptakan" karakter baru yang ideal dan bijaksana di dunia digital, saya memilih untuk tetap menjadi diri saya sendiri dan mengurangi intensitas dan interaksi di media sosial.

Eh, iya belum cerita ya bagaimana hidup saya sebulan tanpa medsos. Membosankan! Hahaha... gak lah! Hidup sih berjalan biasa aja. Saya masih hidup, kerja, nongkrong, ketawa-ketawa, marah-marah, ngomongin orang, dan dapat teman baru yang beneran! Bukan follower atau stalker.

Bangun tidur, pagi-pagi yang dilihat tetep telepon genggam karena harus mematikan alarm. Tetep pasang status karena aplikasi WhatsApp udah keren banget. Tetep swafoto, bikin video dan motret kaki, awan, anak-anak, meskipun tidak diunggah ke medsos. Di kereta pun yang dilihat tetep hape kok. Ya mau gimana lagi... mau baca buku pun ada yang bentuknya digital di telepon pintar.

Kalau bosan dan bawaan kompulsifnya ke hape, itu sama kok.  Terus di layar lihat apa kalau tidak ada lini masa untuk memenuhi hasrat kepo? Saya sih beralih ke Pinterest. Kebutuhan visual untuk melihat foto-foto bagus terpenuhi. Foto kucing-kucing lucu juga cukup menghibur dan bisa bikin ketawa. Sekali-kali gak ngetawain orang baik juga buat kesehatan jiwa.

Satu-satunya yang bikin gatel banget pingin pasang status dan foto-foto itu saat ikut acara Feminist Fest. Waktu itu, saya pingin banget pamer ke semua orang kalau di Jakarta ada lho acara sekeren ini. Ternyata banyak lho, orang-orang yang peduli dengan masalah perempuan. Dan semangat yang berlebihan setelah berada di tengah orang-orang muda yang hebat itu biasanya butuh penyaluran. Biasanya, penyaluran itu adalah dengan mengunggah sesuatu di sosmed. Itu aja sih yang hampir bikin batal detoks digital kemarin.

Setelah sebulan, menurut saya detoks digital itu sebenarnya biasa banget sih. Bukan sesuatu yang istimewa. Sangat biasa seperti tidur, makan, olahraga, mandi, beres-beres rumah. Saking biasa dan gampang, sepertinya saya akan melakukan ini secara rutin. Mungkin setahun sekali. Mungkin akan secara sengaja berbarengan dengan acara-acara besar seperti Pemilu. Ide bagus kan?!

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memenuhi Kebutuhan Emosi

I love you. You... you complete me,” kata Jerry Maguire. 
Lalu Dorothy membalas dengan berkata:
Shut up, just shut up. You had me at ‘hello’.” 


Ungkapan “you complete me” sering digunakan dalam untuk menggambarkan bagaimana pasangan kita membuat diri merasa lengkap, utuh. Pakar psikologi mengatakan, pasangan tidak bisa melengkapi kita, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan emosi. Mereka hanya bisa memenuhi keinginan dan hasrat.

Menuntut orang-orang terdekat untuk memenuhi kebutuhan emosi kita bukanlah tindakan tepat dan tidak rasional. Kita harus bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan emosi kita sendiri. "Jika Anda mencari pasangan yang dapat membuat Anda berarti, bahagia, menyelamatkan dari kebosanan dan kesedihan hidup; jika Anda mencari orang yang dapat melengkapi, itu bukan hal yang mudah dilakukan. Karena sebenarnya yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan itu Anda sendiri," kata Dennis Sugrue, psikologis dari medicinenet.com.

Menurut Psikolog Toge Aprillianto, M. Ps…

Joko Pinurbo dan Makna Rumah dalam Personifikasi Kulkas, Ranjang dan Celana

Judul : Pacar Senja: Seratus Puisi Pilihan Pengarang : Joko Pinurbo Penerbit : Grasindo Cetakan : Pertama, 2005 Penyunting : Pamusuk Eneste Kata Penutup : Ayu Utami

Bila kita membaca Pacar Senja karya Joko Pinurbo, seperti membaca narasi panjang tentang rumah dari kacamata penyair yang biasa disapa Jokpin ini. Sajak yang terkumpul dalam antologi ini memiliki rentang penciptaan yang panjang dari tahun 1980 hingga 2004. Paling banyak puisi bertahun 1996, 2001, dan 2003, masing-masing 14 puisi. Selain itu ada 13 puisi bertahun 1999, 10 puisi di 2002, dan sembilan puisi di tahun 2000. Tahun 1997 ada tiga puisi, tahun 1990 dan 1995 ada dua puisi. Jokpin memasukan masing-masing satu puisi yang bertahun 1980, 1989, 1991, 1994, dan satu puisi bertahun 2002/2003.

Total ada 100 puisi dalam buku ini. Kecuali puisi "Layang-layang" (1980) dan "Pohon Bungur" (1990) yang belum pernah dipublikasikan, 98 karya lain pernah dipublikasikan dalam antologi Celana (1999), Di Bawah Kibar…

Rahim dan Kepahitan Perempuan dalam Patiwangi Karya Oka Rusmini

Judul : Patiwangi Pengarang : Oka Rusmini Penerbit : Bentang Budaya Cetakan : Pertama, Juli 2003 Pemeriksa Aksara : Yayan R.H., Heni Purwaningsih Penata Aksara : Sugeng D.T.

Oka Rusmini merupakan sedikit dari sekian penulis yang berhasil menguasai tiga bentuk fiksi: novel, cerpen, dan puisi. Perempuan Bali yang lahir di Jakarta, 11 Juli 1967 ini dikenal pertama kali lewat novel Tarian Bumi pada tahun 2000. Novel yang sarat dengan budaya Bali ini menjadi ciri khas karya-karya Oka dalam bentuk lain: cerpen dan puisi. Pada tahun 2003, novel ini mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2003 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dulu Pusat Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia disebutkan, Tarian Bumi dianggap sebuah babak baru penulisan prosa panjang di Indonesia yang menampilkan tokoh-tokoh perempuan berbeda dibandingkan penggambaran yang pernah ada dalam khazanah sastra sebelumnya, yaitu sebagai sosok-sosok kuat, gelisah, mandiri, radikal…