Postingan

#1Puan1Pekan Laurel Cho

Gambar
Unggahan Laurel Chor di akun Instagramnya Sebuah unggahan di Twitter membawa saya pada nama Laurel Chor. Kebetulan di unggahan #1Puan1Pekan sebelumnya saya mengangkat jurnalis AS. Jadi, saya langsung tertarik mengenal fotografer asal Hongkong ini untuk melanjutkan pembicaraan tentang perempuan di media.  Laurel adalah jurnalis, fotografer dan konservasionis. Belakangan, dia banyak mengabadikan gerakan sosial pro demokrasi di negaranya. Gerakan tersebut dimulai hampir bersamaan dengan keputusan Laurel menjadi jurnalis lepas. Ini membuat dia bisa mendedikasikan waktunya dengan lebih bebas untuk fokus dalam mendokumentasikan, mengisahkan perjuangan tersebut.  Laurel Chor berbicara biodiversitas di Hongkong dalam TEDx Beberapa karya menarik dari puan ini: 1) Esai foto yang menunjukkan isi tas para protestan yang tertinggal di PolyU; 2) Reportase tentang efektivitas penarikan senjata api otomatis di Selandia Baru setelah insiden penembakan di Masjid Christchurch; 3) Kampanye biodiv...

#1Puan1Pekan Joan Didion

Gambar
Berkenalan dengan Joan Didion (85) pertama kali dari dokumenter Netflix: The Center Will Not Hold (2017). Dia penulis novel, esai, dan memoar kawakan AS. Jurnalis penulis Slouching Towards Bethlehem (1968) yang merupakan kumpulan reportase kondisi California era 60an. Gaya penulisan Didion tajam karena bisa menyeimbangankan empati dan obyektivitas.  " Let me tell you, it was gold ," kata Didion ketika ditanya keponakannya Griffin Dunne, sutradara film dokumenter itu, tentang bagaimana perasaannya ketika menjumpai adegan paling penting dalam esainya " Slouching Towards Bethlehem " tentang Summer of Love di San Francisco. Adegan yang dimaksud adalah ketika dalam reportasenya Didion melihat seorang anak perempuan 5 tahun, bibirnya putih, kecanduan LSD. Pernyataan "it was gold" menunjukkan bagaimana kuatnya jiwa jurnalis Didion yang mengesampingkan emosi saat di lapangan tapi menunjukkan banyak empati dalam tulisan dan pilihan sudut pandangnya. Gaya penulisan...

Puisi-puisi Norman Erikson Pasaribu dan Pentingnya Keragaman dalam Sastra Indonesia

Gambar
Judul : Sergius Mencari Bacchus Penulis : Norman Erikson Pasaribu Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Ilustrator, Disain Sampul, Tata Letak : Leopold A. Surya Indrawan Keragaman dalam Sastra Indonesia, khususnya puisi sulit terwujud jika penulisnya itu-itu lagi. Ini mengacu pada panyair laki-laki heteroseksual yang nama-namanya mendominasi jagat sastra kita. Iya, benar dominasi ini sedikit berkurang dengan munculnya banyak nama perempuan beberapa tahun belakangan ini. Namun, perjalanan untuk memperkaya keragaman Sastra Indonesia masih panjang dan harus terus dilakukan. Memambah keragaman sastra bukan hanya dengan menambah karya dari penulis perempuan. Dunia tidaklah biner, bukan hanya ada laki-laki dan perempuan. Sejak zaman nenek moyang kita, ada spektrum gender yang nonbiner. Sergius Mencari Bacchus karya Norman Erikson Pasaribu menambah kekayaan Sastra Indonesia dari sisi nonbiner tersebut. Buku ini memenangkan Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (...

Pertobatan Saras Dewi dalam Bungkus Puisi

Gambar
Judul : Kekasih Teluk Pengarang : Saras Dewi Penerbit : PBP Publishing / PWAG Indonesia Cetakan : Pertama Maret 2017 Editor : Olin Monteiro Kata Pengantar : Joko Pinurbo Pertobatan sifatnya personal. Tidak ada yang bisa memaksa sesorang bertobat, kecuali dirinya sendiri. Pertobatan biasanya diawali kesadaran akan kesalahan atau dosa yang telah diperbuat. Menyusul kemudian penyesalan. Tidak cukup sampai di situ, pertobatan seharusnya disertai usaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Dalam buku kumpulan puisi keduanya  Kekasih Teluk , Saras Dewi menarasikan pertobatannya. Seperti layaknya sebuah pertobatan, narasi yang muncul dalam 60 puisi ini memang personal. Namun di antara kata-kata yang sederhana, personifikasi alam yang mengena, dan deskripsi rasa yang apa adanya, pembaca tetap bisa menemukan dirinya, merasakan kekecewaan, penyesalan, dan mungkin saja pada pertobatan pribadinya. Saras Dewi adalah seorang aktivis lingkungan hidup. Pengajar di Jurusa...

Rahim dan Kepahitan Perempuan dalam Patiwangi Karya Oka Rusmini

Gambar
Judul : Patiwangi Pengarang : Oka Rusmini Penerbit : Bentang Budaya Cetakan : Pertama, Juli 2003 Pemeriksa Aksara : Yayan R.H., Heni Purwaningsih Penata Aksara : Sugeng D.T. Oka Rusmini merupakan sedikit dari sekian penulis yang berhasil menguasai tiga bentuk fiksi: novel, cerpen, dan puisi. Perempuan Bali yang lahir di Jakarta, 11 Juli 1967 ini dikenal pertama kali lewat novel Tarian Bumi pada tahun 2000. Novel yang sarat dengan budaya Bali ini menjadi ciri khas karya-karya Oka dalam bentuk lain: cerpen dan puisi. Pada tahun 2003, novel ini mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2003 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dulu Pusat Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  Dalam  Ensiklopedia Sastra Indonesia disebutkan,  Tarian Bumi dianggap sebuah babak baru penulisan prosa panjang di Indonesia yang menampilkan tokoh-tokoh perempuan berbeda dibandingkan penggambaran yang pernah ada dalam khazanah sastra sebelumnya, yaitu...

Joko Pinurbo dan Makna Rumah dalam Personifikasi Kulkas, Ranjang dan Celana

Gambar
Judul : Pacar Senja: Seratus Puisi Pilihan Pengarang : Joko Pinurbo Penerbit : Grasindo Cetakan : Pertama, 2005 Penyunting : Pamusuk Eneste Kata Penutup : Ayu Utami Bila kita membaca Pacar Senja karya Joko Pinurbo, seperti membaca narasi panjang tentang rumah dari kacamata penyair yang biasa disapa Jokpin ini. Sajak yang terkumpul dalam antologi ini memiliki rentang penciptaan yang panjang dari tahun 1980 hingga 2004. Paling banyak puisi bertahun 1996, 2001, dan 2003, masing-masing 14 puisi. Selain itu ada 13 puisi bertahun 1999, 10 puisi di 2002, dan sembilan puisi di tahun 2000. Tahun 1997 ada tiga puisi, tahun 1990 dan 1995 ada dua puisi. Jokpin memasukan masing-masing satu puisi yang bertahun 1980, 1989, 1991, 1994, dan satu puisi bertahun 2002/2003. Total ada 100 puisi dalam buku ini. Kecuali puisi "Layang-layang" (1980) dan "Pohon Bungur" (1990) yang belum pernah dipublikasikan, 98 karya lain pernah dipublikasikan dalam antologi Celana ...

Masokhisme dalam Religi: Ulasan Buku Santa Rosa Karya Dorothea Rosa Herliany

Gambar
Judul: Santa Rosa Pengarang: Dorothea Rosa Herliany Penerbit: Indonesia Tera, Magelang Cetakan Pertama, 2005, 128 halaman Penyunting & Penerjemah: Harry Aveling Pengantar: Toeti Heraty Penutup: Dami N. Toda Santa Rosa merupakan buku kumpulan puisi Dorothea Rosa Herliany yang terakhir. Buku terbarunya  Isinga: Roman Papua , merupakan prosa. Kemampuan Rosa sebagai penulis mendapat pengakuan pada kedua karya tersebut. Ia menjadi orang pertama yang memenangi kedua kategori Kusala Sastra Khatulistiwa, prosa dan puisi, dengan Santa Rosa  pada 2006 dan Isinga  pada 2015. Selain dua buku tersebut Rosa menerbitkan kumpulan puisi Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), dan Kill the Radio ( Sebuah Radio, Kumatikan ; edisi dwibahasa, 2001). Ada pula dua buku kumpulan cerpen Blencong (1995) dan  Karikatur dan Sepotong Cinta (1996). Sama seperti b...