#1Puan1Pekan Joan Didion


Berkenalan dengan Joan Didion (85) pertama kali dari dokumenter Netflix: The Center Will Not Hold (2017). Dia penulis novel, esai, dan memoar kawakan AS. Jurnalis penulis Slouching Towards Bethlehem (1968) yang merupakan kumpulan reportase kondisi California era 60an. Gaya penulisan Didion tajam karena bisa menyeimbangankan empati dan obyektivitas. 

"Let me tell you, it was gold," kata Didion ketika ditanya keponakannya Griffin Dunne, sutradara film dokumenter itu, tentang bagaimana perasaannya ketika menjumpai adegan paling penting dalam esainya "Slouching Towards Bethlehem" tentang Summer of Love di San Francisco.


Adegan yang dimaksud adalah ketika dalam reportasenya Didion melihat seorang anak perempuan 5 tahun, bibirnya putih, kecanduan LSD. Pernyataan "it was gold" menunjukkan bagaimana kuatnya jiwa jurnalis Didion yang mengesampingkan emosi saat di lapangan tapi menunjukkan banyak empati dalam tulisan dan pilihan sudut pandangnya.

Gaya penulisan Didion sering disebut new journalism yang memadukan sastra dan jurnalisme, gaya penulisan yang populer di AS tahun 60an-70an. Di Indonesia sering disebut sebagai jurnalisme sastrawi. 

Karya Didion yang paling diakui: The Year of Magical Thinking, memoar tentang pernikahannya dengan penulis John Gregory Dunne (1964--2003) yang ditulis setelah suaminya meninggal. Anaknya, Quintana Roo Dunne meninggal di usia 39 pada 2005, tahun buku itu diterbitkan. Blue Nights yang merupakan memoar tentang mendiang putrinya terbit pada 2011. Dalam dua buku ini dikatakan Didion bisa menuliskan rasa kehilangan layaknya seorang jurnalis andal.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Joko Pinurbo dan Makna Rumah dalam Personifikasi Kulkas, Ranjang dan Celana

Rahim dan Kepahitan Perempuan dalam Patiwangi Karya Oka Rusmini

Memenuhi Kebutuhan Emosi