Langsung ke konten utama

menilai

"jangan menilai sebuah buku dari halaman sampulnya," begitu orang sering berkata. pada kenyataannya, saya selalu tertarik membuka buku hanya karena tertarik halaman sampulnya. hanya membuka ya. membuka tidak selalu berakhir dengan membeli, lalu membaca. saya biasanya membaca buku bila ada rekomendasi dari teman. dan biasanya, saya hanya membeli buku kalau sudah "kenal" dengan si penulis atau tema yang diangkat akan selalu saya butuhkan sewaktu-waktu.

bukan salah buku itu kalau dia hanya memiliki daya tarik di bagian sampul. bukan salah dia juga kalau tata letaknya sangat buruk sehingga banyak orang malas membaca isinya yang sangat bermanfaat. bukan salah dia juga kalau nama penulis yang tercantum sangat terkenal, tapi yang ditulis tidak semenarik buku-buku sebelumnya. 

jadi, salah siapa? bukan salah siapa-siapa, karena semua nilai itu relatif. sampul yang tidak menarik, tata letak yang kacau, dan isi yang kurang berbobot itu mungkin hanya penilaian subyektif kita saja. kalaupun semua orang memberi penilaian yang sama, toh tetap ada yang membeli sebuah buku bersampul buruk hanya karena nama penulisnya bukan? ada pula yang membeli tapi tidak membaca, sehingga tidak pernah tahu kalau ternyata isinya tidak sebagus yang disangka...

sebenarnya yang saya mau katakan hanya:

kalau dia sudah bekerja lama sekali di sebuah perusahaan, tapi jabatannya tidak naik-naik itu tidak selalu berarti dia tidak bisa apa-apa. itu pilihan. pilihan dia untuk tidak menunjukkan keahliannya. pilihan dia untuk tetap tidak bisa apa-apa.

siapalah kita yang berhak menilai kualitas manusia dari jabatan? siapalah kita yang berhak menilai seseorang dari kesalahan yang pernah dilakukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memenuhi Kebutuhan Emosi

I love you. You... you complete me,” kata Jerry Maguire. 
Lalu Dorothy membalas dengan berkata:
Shut up, just shut up. You had me at ‘hello’.” 


Ungkapan “you complete me” sering digunakan dalam untuk menggambarkan bagaimana pasangan kita membuat diri merasa lengkap, utuh. Pakar psikologi mengatakan, pasangan tidak bisa melengkapi kita, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan emosi. Mereka hanya bisa memenuhi keinginan dan hasrat.

Menuntut orang-orang terdekat untuk memenuhi kebutuhan emosi kita bukanlah tindakan tepat dan tidak rasional. Kita harus bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan emosi kita sendiri. "Jika Anda mencari pasangan yang dapat membuat Anda berarti, bahagia, menyelamatkan dari kebosanan dan kesedihan hidup; jika Anda mencari orang yang dapat melengkapi, itu bukan hal yang mudah dilakukan. Karena sebenarnya yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan itu Anda sendiri," kata Dennis Sugrue, psikologis dari medicinenet.com.

Menurut Psikolog Toge Aprillianto, M. Ps…

Jangan Beli, Adopsi saja!

Ingin anjing atau kucing baru? 
Kenapa tidak mencoba mengadopsi mereka saja?

Para pencinta binatang mulai khawatir dengan bertambah banyaknya populasi anjing dan kucing. Binatang peliharaan yang lucu-lucu ini sering menjadi korban orang yang tidak bertanggung jawab dan terlantar di jalanan. Sebagai pencinta binatang sejati, tidak ada salahnya kita mengulurkan tangan dan mengadopsi sebagian dari mereka.

“Tujuan adopsi biasanya adalah untuk penyelamatan. Itulah kenapa sekarang banyak komunitas pecinta binatang yang menyarankan mengadopsi,” kata drh. Saptina Aryani dari Piet Klinik Hewan 24 jam, Sentul City. Ia menyarankan agar kita mempertimbangkan hal-hal berikut bila mengadopsi anjing atau kucing.

>> Pilih Berdasarkan Karakter
Anak anjing atau kucing yang lucu di toko binatang peliharaan sebenarnya tidak cocok untuk kita yang tidak memiliki waktu untuk merawat dan melatih mereka. Binatang peliharaan yang masih kecil butuh perhatian ekstra untuk masalah kesehatan dan latihan keteram…

How Raw Can You Go?

“Jangan dimakan, masih mentah. Nanti kamu sakit perut.” Dulu ibu kita sering melarang demikian. Sekarang kita juga mungkin masih sering mengatakan hal yang sama pada anak kita. Kita percaya bahwa makanan mentah itu tidak baik untuk pencernaan. Memasak adalah proses mematikan kuman sehingga makanan lebih aman disantap.

Lalu kenapa kita kembali ke pola makan nenek moyang kita, manusia purba? Ternyata pola makan makanan mentah lebih mudah dicerna tubuh. Makanan mentah memberikan energi maksimum bagi tubuh dengan usaha minimal. Pola makan ini dapat membuat kita lebih fit, jauh dari alergi, terhindar dari gangguan pencernaan, kolesterol tinggi, obesitas, serta meningkatkan imunitas.

“Bangsa Eskimo merupakan kelompok manusia yang sangat minim riwayat penyakit kronik dan radang sendi. Mereka pemakan sebagian besar raw food,” kata dr. Tan Shot Yen, M.Hum dalam bukunya Resep Panjang Umur, Sehat, dan Sembuh. Eskimo sendiri berasal dari latar budaya Indian yang berarti, “Dia yang makan mentah.”

Ta…