Langsung ke konten utama

k o n v e n s i o n a l


konvensional: 1) berdasarkan konvensi (kesepakatan) umum (spt adat, kebiasaan, kelaziman); 2) tradisional

--kamus besar bahasa indonesia dalam jaringan



Conscious Uncoupling


pengumuman di sebuah situs yang memuat foto di atas telah menghebohkan dunia. bagi yang sudah menikah mungkin banyak yang akhirnya memikirkan nasib pernikahannya. bagi yang belum, bisa jadi semakin enggan menikah. saya termasuk yang pertama, memikirkan tentang nasib pernikahan saya (dan beberapa orang di sekitar saya).

sepertinya sudah beberapa kali ya saya menulis tentang pernikahan. entah kenapa, tema pernikahan sangat enak buat ditulis. sepertinya terlalu banyak cerita di sekeliling saya yang menggelitik untuk dikomentari. sayangnya, mengomentari pernikahan orang lain secara langsung tidak terlalu menyenangkan untuk dilakukan. jadi ya, saya lebih nyaman menuliskan unek-unek di sini.

salah satu unek-unek yang ingin saya sampaikan adalah: kenapa sih memilih jalan hidup yang konvensional (menikah dan punya anak) kalau ternyata masih senang melakukan hal aneh-aneh. menurut saya, pernikahan itu sesuatu yang sangat konvensional. kalau masih senang melakukan hal yang neko-neko ya lebih baik tidak usah menikah atau sudahi saja pernikahannya.

saya bingung kenapa orang senang menyangkal sisi konvensional pernikahan ini. caranya macam-macam, dari mulai berselingkuh, menikahi lebih dari satu orang, membuat kesepakatan open relationship, dan ide-ide gila lain. padahal, mau menyangkal sehebat apa pun, tetap saja orang yang menikah pasti mengharapkan sesuatu yang konvensional dari bentuk hubungan tersebut. pasangan sesama jenis yang akhirnya memutuskan untuk menikah juga biasanya demikian. sebagian dari mereka menginginkan anak, sebagian lagi bersumpah setia untuk bisa melegitimasi hubungan mereka sebagai pasangan "resmi."

pasangan dalam foto di atas memutuskan untuk "consciously uncouple and coparent." akibat tampak sangat ideal sebagai pasangan dan sebagai orangtua, keputusan mereka menjadi mengejutkan banyak orang. hubungan mereka tampak sangat konvensional, atau paling tidak mereka mengusahakan untuk tampak konvensional. apakah ini mematahkan teori saya bahwa yang konvensional itu ternyata tetap tidak bisa bertahan dalam pernikahan?

lho, kalau yang konvensional saya tidak bisa bertahan bagaimana dengan yang tidak konvensional? pertanyaannya utama di sini adalah bisakah orang-orang yang tidak konvensional menjalani sesuatu yang sangat konvensional?

pasangan bintang hollywood dan penyanyi rock pasti sulit menjalani hidup konvensional di tengah hingar-bingar kegiatan karir mereka. mereka sudah berusaha 10 tahun. mungkin memang pernikahan keduanya hanya bisa diusahakan selama itu. mereka mungkin akhirnya memiliki pendapat yang sama dengan saya, sesuatu yang neko-neko itu tidak cocok untuk dibingkai dalam sebuah pernikahan. karena itulah kemudian mereka akhirnya memutuskan untuk bercerai.

saya sangat mengerti dan menghormati pilihan siapa pun untuk bercerai. bagi saya bercerai jauh lebih baik karena paling tidak mereka mau mengakui kelemahan mereka, kemudian memutuskan sesuatu yang pastinya tidak mudah dilakukan, dan terakhir mau menanggung risiko dari keputusan itu. tiga tindakan tersebut jauh lebih baik daripada terus berusaha untuk menutup-nutupi sesuatu alias berbohong ke banyak pihak; atau mengulur-ngulur waktu akibat tidak bisa mengambil keputusan dan ingin memiliki semuanya; dan tentunya dua hal itu merupakan bentuk tindakan yang lebih tidak bertanggung jawab.

orang yang memutuskan untuk menikah bisa bukan golongan yang konvensional. namun, pernikahan ini mau tidak mau merupakan lembaga tradisional yang memiliki beban nilai konvensional. kalau kita sudah memilih untuk menikah, sedikit banyak akan tetap ada beban nilai konvensional yang harus dipertanggungjawabkan dalam hubungan.

kembali ke pertanyaan utama: bisakah orang-orang yang tidak konvensional menjalani sesuatu yang sangat konvensional?

kalau bisa silakan! kalau tidak, sudah sewajarnya bukan?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Joko Pinurbo dan Makna Rumah dalam Personifikasi Kulkas, Ranjang dan Celana

Judul : Pacar Senja: Seratus Puisi Pilihan Pengarang : Joko Pinurbo Penerbit : Grasindo Cetakan : Pertama, 2005 Penyunting : Pamusuk Eneste Kata Penutup : Ayu Utami

Bila kita membaca Pacar Senja karya Joko Pinurbo, seperti membaca narasi panjang tentang rumah dari kacamata penyair yang biasa disapa Jokpin ini. Sajak yang terkumpul dalam antologi ini memiliki rentang penciptaan yang panjang dari tahun 1980 hingga 2004. Paling banyak puisi bertahun 1996, 2001, dan 2003, masing-masing 14 puisi. Selain itu ada 13 puisi bertahun 1999, 10 puisi di 2002, dan sembilan puisi di tahun 2000. Tahun 1997 ada tiga puisi, tahun 1990 dan 1995 ada dua puisi. Jokpin memasukan masing-masing satu puisi yang bertahun 1980, 1989, 1991, 1994, dan satu puisi bertahun 2002/2003.

Total ada 100 puisi dalam buku ini. Kecuali puisi "Layang-layang" (1980) dan "Pohon Bungur" (1990) yang belum pernah dipublikasikan, 98 karya lain pernah dipublikasikan dalam antologi Celana (1999), Di Bawah Kibar…

Misteri Kematian dan Janji Surga dalam Novel Faisal Oddang

Surga diciptakan karena...
Demikian kalimat menggantung yang tertera di bawah judul novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang. Buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (Jakarta, 2015) ini ditulis untuk menjawab pertanyaan, "Kenapa surga diciptakan?" Pertanyaan penting yang akan memengaruhi kehidupan manusia dan apa saja yang akan diperbuatnya sebelum dijemput kematian. Kematian dan surga adalah dua hal yang menggerakkan alur dan menciptakan konflik novel ini.

Ini kisah kematian. Dimulai dengan kematian seseorang diakhiri dengan kematianmu. Iya, kematianmu. Tidak usah terkejut. Novel ini 200an halaman ini terbagi dalam empat bagian dan 20 bab. Tiap bagian diberi judul dan potongan puisi. Bagian pertama berjudul "Menyiapkan Kematian", bagian kedua "Pada Kematian Itu, Aku Pergi", dilanjutkan dengan "Obituari Luka", dan terakhir "Alam Baka" atau puya.

Narator dalam novel ini adalah leluhur orang Toraja, suku yang terkenal dengan tradisi upac…

Rahim dan Kepahitan Perempuan dalam Patiwangi Karya Oka Rusmini

Judul : Patiwangi Pengarang : Oka Rusmini Penerbit : Bentang Budaya Cetakan : Pertama, Juli 2003 Pemeriksa Aksara : Yayan R.H., Heni Purwaningsih Penata Aksara : Sugeng D.T.

Oka Rusmini merupakan sedikit dari sekian penulis yang berhasil menguasai tiga bentuk fiksi: novel, cerpen, dan puisi. Perempuan Bali yang lahir di Jakarta, 11 Juli 1967 ini dikenal pertama kali lewat novel Tarian Bumi pada tahun 2000. Novel yang sarat dengan budaya Bali ini menjadi ciri khas karya-karya Oka dalam bentuk lain: cerpen dan puisi. Pada tahun 2003, novel ini mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2003 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dulu Pusat Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia disebutkan, Tarian Bumi dianggap sebuah babak baru penulisan prosa panjang di Indonesia yang menampilkan tokoh-tokoh perempuan berbeda dibandingkan penggambaran yang pernah ada dalam khazanah sastra sebelumnya, yaitu sebagai sosok-sosok kuat, gelisah, mandiri, radikal…