Langsung ke konten utama

gertak sambal

orang jaman sekarang senang menggertak di sekolah, jejaring sosial, dan tentunya di kantor. mereka yang kerjanya menggertak bawahan biasanya tidak percaya diri. mereka ingin orang lain pun demikian. gertakan dilancarkan untuk menggempur pertahanan kepercayaan diri kita.

ini saya rasakan benar di kantor. saya merasa selalu digertak. ide-ide saya sering dimentahkan dan suara saya hampir tidak pernah didengar. mungkin mereka menganggap saya tidak tahu apa-apa, selalu salah jika mengatur pemotretan, sering salah ketik, tidak bisa mengedit dengan baik dan benar, serta tidak memiliki selera dan gaya yang sesuai dengan majalah tempat saya bekerja. sebut saja namanya pembantar.

sering sekali saya mendengar, "temanya kurang pembantar", "model yang dipilih kurang 'mahal' dan nggak pembantar", "judulnya nggak pembantar", saya tidak pembantar. argumentasi basi ini sering saya dengar sejak saya di majalah gaya (nama disamarkan). sebelum saya dipindahkan ke pembantar, mereka juga bilang saya tidak gaya.

memang yang pembantar itu seperti apa? kalau dia bilang model artikel fitnes saya seperti "kebanjiran" karena tidak pakai kaus kaki, ternyata majalah pembantar dari negara asalnya banyak yang menampilkan model tanpa kaus kaki saat memperagakan gerakan fitnes. mereka bilang wajah model itu kurang "mahal," tapi di edisi lama banyak wajah yang lebih "murah" tetap bisa masuk. kalau mereka cerdas sih, argumentasi untuk menyuruh foto ulang bukan dua alasan itu, tapi: "lengannya besar. ini kan latihan untuk mengencilkan lengan, harusnya cari model yang lengannya kecil."

lalu tentang tema artikel. dia bilang artikel pembantar itu tidak pernah yang negatif. jadi yang diangkat jangan tema "jenis kemarahan" tapi contoh situasinya dan bagaimana cara mengatasinya. agar semua senang, saya buatlah artikel untuk edisi april itu dengan saran dia. lalu, jeng jeng... pembantar dari negara aslinya mengeluarkan edisi mei dengan tema "apa jenis kemarahan anda?" tuh, kan... masih mau bilang nggak pembantar?

jadi yang pembantar itu seperti apa? yang kaku dan membosankan karena isinya hanya contoh peristiwa atau kasus lalu diikuti dengan solusi? atau yang begitu-begitu saja karena selalu harus membahas yang positif? mana ada sih tema kontroversial (yang biasanya menjual) tapi tidak negatif? kenapa kita harus mengikuti pedoman lama yang sudah ditinggalkan oleh si pembuat pedoman? si majalah aslinya saja sudah membuat artikel investigasi limbah nuklir lo.

kalau boleh mengeluarkan kalimat "nggak pembantar banget," saya sih akan menunjuk kata sapaan "ciiiin!" di akhir catatan pengantar editorial ya...

itu baru gertakan tentang saya yang dibilang tidak punya selera sesuai majalah pembantar. masih banyak gertakan lain yang membuat saya kehilangan rasa percaya diri. saking seringnya lupa, salah sebut, dan salah tulis, saya selalu mengandalkan situs mesin pencari dan kamus dalam jaringan. saya sering diam lama sebelum menjawab karena membuka salah satu atau keduanya terlebih dahulu. mungkin karena itulah, mereka berpikir saya tidak tahu apa-apa dan tidak pernah mau mendengarkan pendapat atau perkataan saya.

saya sih pasrah saja diperlakukan seperti itu. saya lebih baik dibilang tidak tahu apa-apa  daripada saat saya membuka mulut: 1) salah menyebut bran. dan, mengatakan kalau *estle itu punya bran air dalam kemasan bernama p*r*it yang dibuat dari air embun. atau 2) mengatakan kalau flu singapura itu datangnya dari negara singapura karena banyak orang di jakarta yang pergi ke sana. karena itulah penularan flu singapura banyak terjadi di sekolah-sekolah internasional. dan 3) dengan lantangnya bilang tidak tahu kristin chenoweth itu siapa karena dia bukan orang terkenal.

reaksi saya atas tiga hal itu: 1) saya tahu dia salah sebut bran, tapi saya diam saja. saking seringnya digertak, saya yang kehilangan percaya diri dan tidak berani mengoreksi pernyataan dia. saya sampai harus membuka mesin pencari untuk menyakinkan diri kalau dia memang salah sebut.

2) saya diam saja saat mereka berdua berbincang tentang flu singapur. saya hanya gatal ingin menunjukkan ini pada mereka. tidak mungkin saya menyambar dalam perbincangan kedua atasan itu, jadi saya hanya berkicau di twitter dan bilang "gatel, pingin ngetwit ini" sambil merujuk ke blog saya itu. kalau mereka itu ibu-ibu biasa, saya akan memaklumi ketidaktahuan mereka. sayangnya, salah satu dari mereka itu mantan redaktur pelaksana sebuah media untuk ibu dan anak.

3) komentar saya (yang tentunya juga tidak sempat dikatakan selantang omongan dia) "kalau kamu tidak tahu, bukan artinya dia tidak terkenal bukan?" coba deh baca dulu artikelnya. dan jangan bilang dia lebih dikenal karena glee. dia itu sampai main di glee karena dia bintang broadway dan pemenang tony award. bukannya sudah banyak orang indonesia yang tahu ya, kalau jadi bintang broadway lebih bergengsi dibanding main di beberapa episode di glee?

silakan saja kalau mereka mau terus mengumbar gertak sambal. saya tidak perlu membalas, cukup diam, dan terus mengingatkan diri kalau narasumber saya lebih banyak, kalau hari ini saya menjadi satu-satunya wartawan yang berhasil menyelesaikan tts dari sekitar enam puluh perserta yang hadir, kalau saya masih merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa tapi masih mau belajar dan membaca...

ah, gertak sambal menurut kbbi kan hanya ancaman untuk menakut-nakuti. dan, penggertak salah satu artinya adalah sesuatu yg dipakai untuk membuat berani. semoga saja mereka memang senang menggeretak untuk membuat saya menjadi berani dan bukan buat tujuan lain. *berani buat mencari pekerjaan lain maksudnya*

Komentar

  1. Ihhhh gemes bacanyaaaa!!!! Siapa sih mantan redpel majalah ibu dan anak itu? Kurang lama tuh dia jadi redpel..keselllllll.

    Yg tabah ya bu, di dunia ini jauh lebih banyak manusia yg menyebalkan daripada yg cerdas dan menyenangkan. Dirimu manusia kelompok ke-2 yg sekarang kian langka :)

    BalasHapus
  2. berharap dikelilingi manusia kelompok kedua. hai kamu, nanti kalau pulang kita kerja bareng aja gimana?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Joko Pinurbo dan Makna Rumah dalam Personifikasi Kulkas, Ranjang dan Celana

Judul : Pacar Senja: Seratus Puisi Pilihan Pengarang : Joko Pinurbo Penerbit : Grasindo Cetakan : Pertama, 2005 Penyunting : Pamusuk Eneste Kata Penutup : Ayu Utami

Bila kita membaca Pacar Senja karya Joko Pinurbo, seperti membaca narasi panjang tentang rumah dari kacamata penyair yang biasa disapa Jokpin ini. Sajak yang terkumpul dalam antologi ini memiliki rentang penciptaan yang panjang dari tahun 1980 hingga 2004. Paling banyak puisi bertahun 1996, 2001, dan 2003, masing-masing 14 puisi. Selain itu ada 13 puisi bertahun 1999, 10 puisi di 2002, dan sembilan puisi di tahun 2000. Tahun 1997 ada tiga puisi, tahun 1990 dan 1995 ada dua puisi. Jokpin memasukan masing-masing satu puisi yang bertahun 1980, 1989, 1991, 1994, dan satu puisi bertahun 2002/2003.

Total ada 100 puisi dalam buku ini. Kecuali puisi "Layang-layang" (1980) dan "Pohon Bungur" (1990) yang belum pernah dipublikasikan, 98 karya lain pernah dipublikasikan dalam antologi Celana (1999), Di Bawah Kibar…

Misteri Kematian dan Janji Surga dalam Novel Faisal Oddang

Surga diciptakan karena...
Demikian kalimat menggantung yang tertera di bawah judul novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang. Buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (Jakarta, 2015) ini ditulis untuk menjawab pertanyaan, "Kenapa surga diciptakan?" Pertanyaan penting yang akan memengaruhi kehidupan manusia dan apa saja yang akan diperbuatnya sebelum dijemput kematian. Kematian dan surga adalah dua hal yang menggerakkan alur dan menciptakan konflik novel ini.

Ini kisah kematian. Dimulai dengan kematian seseorang diakhiri dengan kematianmu. Iya, kematianmu. Tidak usah terkejut. Novel ini 200an halaman ini terbagi dalam empat bagian dan 20 bab. Tiap bagian diberi judul dan potongan puisi. Bagian pertama berjudul "Menyiapkan Kematian", bagian kedua "Pada Kematian Itu, Aku Pergi", dilanjutkan dengan "Obituari Luka", dan terakhir "Alam Baka" atau puya.

Narator dalam novel ini adalah leluhur orang Toraja, suku yang terkenal dengan tradisi upac…

Rahim dan Kepahitan Perempuan dalam Patiwangi Karya Oka Rusmini

Judul : Patiwangi Pengarang : Oka Rusmini Penerbit : Bentang Budaya Cetakan : Pertama, Juli 2003 Pemeriksa Aksara : Yayan R.H., Heni Purwaningsih Penata Aksara : Sugeng D.T.

Oka Rusmini merupakan sedikit dari sekian penulis yang berhasil menguasai tiga bentuk fiksi: novel, cerpen, dan puisi. Perempuan Bali yang lahir di Jakarta, 11 Juli 1967 ini dikenal pertama kali lewat novel Tarian Bumi pada tahun 2000. Novel yang sarat dengan budaya Bali ini menjadi ciri khas karya-karya Oka dalam bentuk lain: cerpen dan puisi. Pada tahun 2003, novel ini mendapat Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2003 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dulu Pusat Bahasa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia disebutkan, Tarian Bumi dianggap sebuah babak baru penulisan prosa panjang di Indonesia yang menampilkan tokoh-tokoh perempuan berbeda dibandingkan penggambaran yang pernah ada dalam khazanah sastra sebelumnya, yaitu sebagai sosok-sosok kuat, gelisah, mandiri, radikal…