Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

menilai

"jangan menilai sebuah buku dari halaman sampulnya," begitu orang sering berkata. pada kenyataannya, saya selalu tertarik membuka buku hanya karena tertarik halaman sampulnya. hanya membuka ya. membuka tidak selalu berakhir dengan membeli, lalu membaca. saya biasanya membaca buku bila ada rekomendasi dari teman. dan biasanya, saya hanya membeli buku kalau sudah "kenal" dengan si penulis atau tema yang diangkat akan selalu saya butuhkan sewaktu-waktu.
bukan salah buku itu kalau dia hanya memiliki daya tarik di bagian sampul. bukan salah dia juga kalau tata letaknya sangat buruk sehingga banyak orang malas membaca isinya yang sangat bermanfaat. bukan salah dia juga kalau nama penulis yang tercantum sangat terkenal, tapi yang ditulis tidak semenarik buku-buku sebelumnya. 
jadi, salah siapa? bukan salah siapa-siapa, karena semua nilai itu relatif. sampul yang tidak menarik, tata letak yang kacau, dan isi yang kurang berbobot itu mungkin hanya penilaian subyektif kita s…

gertak sambal

orang jaman sekarang senang menggertak di sekolah, jejaring sosial, dan tentunya di kantor. mereka yang kerjanya menggertak bawahan biasanya tidak percaya diri. mereka ingin orang lain pun demikian. gertakan dilancarkan untuk menggempur pertahanan kepercayaan diri kita.
ini saya rasakan benar di kantor. saya merasa selalu digertak. ide-ide saya sering dimentahkan dan suara saya hampir tidak pernah didengar. mungkin mereka menganggap saya tidak tahu apa-apa, selalu salah jika mengatur pemotretan, sering salah ketik, tidak bisa mengedit dengan baik dan benar, serta tidak memiliki selera dan gaya yang sesuai dengan majalah tempat saya bekerja. sebut saja namanya pembantar.
sering sekali saya mendengar, "temanya kurang pembantar", "model yang dipilih kurang 'mahal' dan nggak pembantar", "judulnya nggak pembantar", saya tidak pembantar. argumentasi basi ini sering saya dengar sejak saya di majalah gaya (nama disamarkan). sebelum saya dipindahkan ke pemb…

pekerjaan = pacar (bukan suami!)

kalau saya dulu mencari pacar segiat saya mencari kerja, mungkin koleksi mantan saya akan lebih banyak dan lebih baik. tidak akan ada lagi penyesalan: kenapa dulu kuliah cuma pacaran sama satu orang? iya kalau orangnya bener, wong bajingan gitu...

kesimpulan itu didapat setelah dua pertemuan singkat yang saya lakukan di sela-sela kesibukan mengejar tenggat naik cetak majalah. saya memang punya dorongan aneh, setiap deadline pinginnya ketemu teman. makan malam atau siang bareng. sudah menjadi kebiasaan saya menyelinap pergi saat deadline. kebiasaan yang pasti dikutuk rekan sekantor saya. pembelaan saya: saya butuh hiburan dan tidak mau jadi gila di kantor.

jadi... pertemuan pertama adalah dengan teman dekat saya sewaktu kuliah. dia teman seangkatan dan sejurusan. sudah lama sekali kami tidak bertemu karena setelah kuliah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. banyak sekali kabar dia yang belum saya ketahui, demikian pula dia yang banyak tidak tau kalau saya sudah pindah kantor lima kali, …

setelah delapan tahun menjadi wartawan

saya beruntung bisa menjalani profesi ini. profesi yang membuat saya bisa melakukan hobi menulis dan membaca. setelah delapan tahun, kesimpulan saya cuma dua:

1) industri ini tidak menghargai waktu para pekerjanya, dan

2) perusahaan media adalah perusahaan yang tidak ramah dengan perempuan, terutama yang sudah punya anak.

kesimpulan ini jangan terlalu diambil hati dan diseriusi. itu hanya kesimpulan subyektif saya yang pengalamannya hanya sebegitu. pasti banyak wartawan perempuan yang nasibnya jauh lebih baik dari saya, yang bisa dengan santai bekerja sambil merawat anak di rumah, yang tidak perlu menjalani deadline hingga subuh menjelang, yang tidak perlu membuang waktu akhir pekan untuk liputan.

meskipun mungkin juga emosional, kesimpulan yang subyektif ini membuat saya berpikir: mungkin sudah saatnya saya berganti profesi.

tentang ambisi

kepala tiga dan masih dalam posisi editor. padahal, teman teman dekat saya sudah ada dua orang yang menjadi redaktur pelaksana. mereka beberapa bulan lebih muda. teman sekantor saya bahkan ada yang lebih muda, tapi sudah mendapat label senior di belakang jabatan editornya.

saya memang bukan orang yang ambisius. jabatan hampir tidak pernah menjadi hal yang penting dalam kehidupan saya. saya juga tidak pernah memiliki target tertentu untuk masalah karir. tidak berarti teman-teman saya itu orang yang ambisius ya... pekerja keras iya. berarti saya bukan pekerja keras dong? mungkin demikian adanya.

saya bilang 'hampir' tidak pernah menginginkan jabatan tertentu karena pernah ada sebuah jabatan yang saya inginkan, tapi tidak saya peroleh. masa itu dapat dikatakan satu-satunya periode saya memiliki ambisi. itu terjadi saat saya menempuh pendidikan tingkat atas di sebuah sekolah kejuruan.

saya memilih sekolah kejuruan karena punya cita-cita menjadi disainer. cita-cita yang menguap selepa…

berharap kaya

bukan tinggal di apartemen dengan mobil dan sopir pribadi, tapi tinggal di sebuah rumah kecil dengan halaman di sekelilingnya. tidak mau di tengah kota, tapi di tempat yang hawanya sejuk tanpa perlu pasang ac. tiap hari ke warung dan pasar dengan sepeda. tidak banyak yang dibeli karena cabai, tomat, dan buah-buahan bisa petik dari kebun belakang. penghuni rumah tiga orang ditambah dua anjing dan tiga kucing. sesekali ada yang datang, bantu menyuci, setrika, dan merapihkan rumah. kantor hanya sepetak ruang dengan sambungan internet di tengah rumah, bersebelahan dengan karpet kecil tempat anak bermain. dia tontonan dan hiburan kami tiap hari.
*harapan yang sebenarnya tidak terlalu sulit diwujudkan, jika mau*

duka cita bagi setia

mari kita
tundukan kepala
heningkan cipta
bagi setia
yang mati terjerat
rentang perselingkuhan
yang entah di mana indahnya

bangkit dan angkatlah
jasad setia yang kaku
ditinggal kepercayaan

jalanlah bersamanya
hantarkan setia
ke pemakaman umum
tempat kejujuran, janji, dan harapan
berbaring dalam keabadian

segeralah masukan setia
dalam liang lahat
di tengah derai duka
tidak ada artinya dia hidup di dunia
jika perselingkuhan masih berjaya



(untuk seseorang yang sia-sia mengharapkan maaf)

bandung-batukaras, 2 Januari 2009

sepuluh hal tentang saya

tulisan ini dibuat empat tahun yang lalu dan sekarang hanya dua hal yang masih saya lakukan sisanya tinggal sejarah.

akan berhenti kalau di jalan ketemu kucing untuk menyapa dengan, "pus... pus..." atau mengelus mereka. kehebohan gue pada kucing dan anjing hampir sama dengan kehebohan perempuan-perempuan pada umumnya kalo ketemu anak bayi. tapi kalau sama bayi atau anak kecil gue tidak akan bereaksi apa-apa.

tiap hari minimal 5-10 jam harus dengerin musik, kalau nggak bakal pegel-pegel otaknya. jenisnya apa aja, mulai dari metallica sampe vina panduwinata. biasanya nyetel kaset pagi-pagi sambil dandan atau jadi autis dengan head phone di kantor.

masih beli kaset, bukan cd atau mengunduh mp3.

nggak bisa jalan-jalan tanpa pakai cincin, anting, kalung, gelang yang rada-rada gede dan mencolok. gue pernah pulang lagi ke kost, setelah berjalan lebih dari 1 km karena lupa pakai gelang.

koleksi baju dalem warna-warni beranekaragam bentuk. bakal gatel-gatel kalau terpaksa pakai bh yan…

mencobamu

membereskan diri sebelum kita bertemu
membersihkan hati dan hari dari nama lama yang seharusnya sudah pergi
mengatakan iya padamu dan tidak padanya
menghapus bekas bibirnya di bibirku sebelum bibir kita bertemu
mencoba untuk jatuh pada cinta dan percaya pada keberadaannya
membuatmu mau untuk ikut menjaga agar hati tak patah
menunggu... menunggu... dan tidak terburu-buru

perempuan yang selalu bernyanyi tapi tidak pernah menari

jaman dahulu kala di sebuah kota metropolitan jakarta, hiduplah seorang perempuan yang selalu bernyanyi namun tidak pernah menari. ketika pergi ke sebuah tempat hiburan untuk berkaraoke bersama teman-temannya, dia hanya akan bernyanyi sambil duduk. sesekali kepala atau pundaknya bergoyang mengikuti alunan musik, tapi itu bukan sebuah tarian.
     sementara teman-temannya mengangkat tangan ke udara sambil bergoyang pinggul, dia tetap duduk dan hanya bisa menyumbangkan senyum atau tawa pada mereka yang menari. bila ada yang berhasil memaksanya menari, orang hanya akan melihat tubuhnya bergerak kaku, tak pula sejalan dengan irama lagu. tahu begitu, mereka tak lagi mau mengajaknya bergoyang seiring lagu.
     perempuan yang selalu bernyanyi ini bukan pelanggan tempat karakoke, bukan kontestan ajang adu bakat di televisi. dia tidak pernah berniat menjadikan suaranya alat mencari nafkah. tapi, ia selalu bernyanyi. ia bernyanyi ketika bekerja di depan komputer kantornya. tak peduli semua telin…

tentang lelaki kecilku

(ini dibuat saat diamasih satu tahun)


suaranya seperti namanya menderu, membuat orang-orang panik jika mendenger dia menangis

mukanya persis bapaknya, cuma bibirnya yang mirip mamanya

berkat kerakusannya menghisap dan asi mamanya yang melimpah, belum 1 bulan berat badannya naik 1kg dari berat lahir (berat lahir 3,7kg berat pas pulang dari rs 3,4kg berat pas 3 minggu 4,4kg)

selalu mengulat lalu tersenyum sehabis menyusu

senang berlatihan teater alias mengubah-ubah ekspresi muka kalau sedang tidak bisa tidur

menangis kencang sebelum pipis. diduga buat ngerjain mamanya, karena kalau dia nangis dan pas diperiksa nggak pipis atau pup pastinya dia mau mimik. pas dipangku dalam posisi menyusui dia akan pipis dan basahin baju mamanya

sering kecing atau pup lagi beberapa detik setelah popoknya diganti

senang tidur dengan posisi tangan direntangkan ke samping atau diangkat ke atas

kalau tidur suka kagetan dan baru bisa tenang kalau megang jari mamanya

kentutnya kenceng kaya suaranya. pernah kaget dan keb…

glow old with you

mengenang kosong tujuh-kosong delapan-kosong sembilan


Jangan kau lupa.
Aku menerima seluruhmu.
Dan kalau kau sebut aku belahan jiwa,
maka tak ada yang harus kutakutkan.


Kita sepakat membangun rumah termasuk
membesarkan anak
Bahwa kita menghormati dan menghargai
perbedaan kita, kalau ada.
Bahwa yang lebih utama adalah kemanusiaan kita,
yang berkembang dan bahagia
karena usaha bersama.


Sisanya, bagaimana memanfaatkan apa yang kita
punya untuk kebaikan manusia lainnya.
Hanya itulah soalnya.
Karena hanya itulah kehidupan.


Kutipan dari monolog Cairan Perempuan
(Riris K. Toha Sarumpaet)



kalimat "glow old with you" dan foto angrek layu di atas karya titi kusumandari
*yes it's glow not grow, karena kami mau berkilau bersama hingga tua*

salam

perkenalkan, saya si senang berkicau. anda bisa menemukan saya dengan nama @newroosee atau di blog lawas dan blog baru beberapa kicauan sudah dipublikasikan di kedua tempat itu.  selamat membaca.